Home / Syi'ar / TEMAN NIKAH (Keluarga PMR SMAN 2 Pemalang 2012/2013)

TEMAN NIKAH (Keluarga PMR SMAN 2 Pemalang 2012/2013)

Nut nut..nut nut..
Bunyi HP-ku memang seperti itu. Kalau ingin lebih jelasnya mungkin bisa hubungi saya di 0896XXXXXXXX. (maaf promo. *emot tangan salam maaf)
Ada sebuah pesan dari nomor yang belum saya kenal. Nomornya 0877XXXXXXXX. Nomor tertulis langsung di bagian chatting. Taukan kenapa? Tau lah yak. Hehe. Penasaran juga dengan nomor ini, sebelum saya buka isi pesannya, seperti biasanya, dilihat dulu fotonya. Hal ini dilakukan untuk mengetahui dari jenis manusia yang bagian mana (baca : laki-laki atau perempuan). Dalam buram foto WA karena masih loading (maklum sinyal tidak sekuat hati seorang jomblo), saya menduga nomor itu berasal dari seorang wanita berhijab. Alhamdulillah. Mungkin beliau ingin mengucapkan mohon nafkah lahir batin.
Iya. Menjelang 1 Syawal memang banyak yang mengucapkan maaf. Saya juga mengirim ke beberapa teman sejawat dan teman sehati. Ehm eh*. Tahun lalu, di bulan Syawal menjadi bulan menikah. Banyak sekali yang menikah, mengadakan hajatan. Tujuannya logis sih, memjadikan hari menikah di hari setelah kemenangan. MasyaAllah. Selebihnya karena banyak yang pulang kampung. Jadi yang datang ke hajatan juga pastinya lebih banyak.
“Mungkinkah pemilik nomor ini ingin segera dinafkahi di syawal ini?” loading foto WA-nya belum juga selesai. Tiba-tiba hati mulai deg-degan. Apa ini suatu pertanda bahwa saya hidup? *eh iya pasti. Hehe.
Foto WA itu mulai terlihat. Tapi sungguh, saya tidak mengenalnya. Mungkin karena efek editan yang sangat luar biasa, tapi jika dilihat-lihat, sepertinya pemilik nomor ini can- eh tidak boleh lihat dengan seksama. Istighfar. Astaghfirullah. Ternyata hati ini masih bisa menjaga pandangan mata. Luar biasa sekali. Saya bangga.
“Sudahlah, ga kenal orangnya. Mungkin ada yang mau nyewa proyektor.” Pikirku, karena kebetulan di tempat rantau sana saya berbisnis penyewaan proyektor. Hasilnya lumayan, bisa buat jajan sama bayarin teman jajan, lalu bilang,”orang kaya,” kepada teman saya. Padahal hanya jajanin permen C*pa C*p. Itulah persahabatan.
“Assalamu’alaikum. Fathir?” Isi pesan tersebut. Saya memprediksi dua hal, pertama jelas dia seorang muslimah (Karena menggunakan salam dan berkerudung), kedua dia bukan adik angkatan, bisa seangkatan atau malah kakak angkatan karena memanggil saya dengan nama asli, bukan nama samaran (nama samaran: mas, ganteng, akang, A’a). sepertinya dugaan awal saya benar, dia akan menyewa proyektor.
“Wa’alaikumussalam. Iya. Siapa ya?” jawabku.
“Abdul Fathir kan ya? Ini Aska, lupa ya?” Aska? Siapa Aska? Apakah dia jodohku? Apa sih. Hehe. Sepertinya bukan. Saya mengingat-ingat orang yang bernama Aska yang pernah ada dalam kehidupanku. Oh ya, mungkin yang itu.
“Aska Gustariani, Sekretaris PMR 2012/2013?” jawab saya dengan yakin.
“Hehe. Iya. Akhirnya ketemu juga nomermu Thir.”
“Ehh. Cari nomorku toh. Ada apa? Tumben nyariin.”
“Nikah Thir.” Seketika hatiku berkecamuk, apa yang terjadi. Kenapa dia membahas nikah? Ataukah?
“Maksudnya?” Jawabku santai.
“Ayu Astrianah nikah, ini surat undanganmu di aku. Mau diambil ga?” jawabnya. Dalam hati sangat bersyukur karena dugaanku salah. Saya kira dia akan mengajak untuk segera mengkhitbah. Hehe. Don’t baper anywhere.
“Oh ya kah? Kapan?”
“Tanggal 8 Thir. Datang ya. Aku datang loo.”
“Njuk angger Aska teka, pan apa? Haha. Nyong wis mangkat Jogja As ning tanggal semono. Salam wae yo” (Lalu kalau Aska datang, mau apa? Haha. Saya sudah berangkat Jogja As kalau tanggal segitu. Salam aja ya)
“yah. Kecewa. Udah susah-susah tak cari nomormu lo Thir.”
“Sabar As. Cobaanmu memang berat. haha”
Setelah itu, mulailah percakapan di antara kita membahas terkait banyak hal, mulai dari kapan lulus sampai kapan bisa memimpin Negara (engga ding, boong).
Di terik panas matahari, hati ini diterpa angin sejuk berupa kabar gembira sekaligus kabar yang membuat hati ini sungkan untuk memikirkannya. Kabar gembira mendengar temanku, staff di organisasiku dulu sudah segera akan menikah. Namun sayangnya, di tanggal pernikahan beliau, saya tidak bisa hadir. Sebagai pemimpin di masa itu, saya merasa bersalah tidak bisa menghadiri pernikahan dengan lelaki yang ia sayangi. Alhamdulillah. Kamu kapan pembaca yang budiman?
— — —

Alhamdulillah, 1 syawal telah berlalu. Keluarga juga sudah lengkap berkumpul. Sudah juga mengunjungi sanak keluarga. Tradisi yang tidak ingin dihilangkan. Di malam takbiran kemarin kita sekeluarga mengunjungi rumah-rumah paman dan bibi untuk bersilaturahim. Paginya setelah shalat Ied, dilanjutkan kembali ke saudara yang lain. Hal ini sudah menjadi kebiasaan di desa saya. Jika sudah masuk hari ke dua (seperti hari ini) biasanya makan besar. Yah. Alhamdulillah diberi waktu sempat untuk tetap merasakan kebahagiaan hangatnya keluarga.
di waktu senggang, saya buka HP kembali. Aktifkan kuota. Barangkali ada yang meminta maaf. Saya maafkan. Hehe. Memang terkadang ada yang protes, “minta maaf jangan hanya waktu Idul Fitri saja.” Benar. Meminta maaf jangan hanya di saat Idul Fitri saja. Ketika kita melakukan kesalahan, maka segeralah minta maaf sebelum kita lupa. Menjadikan Idul Fitri sebagai tempat saling meminta maaf juga tidak ada salahnya. Seringkali kita melakukan kesalahan yang tidak disengaja. Sepertinya jarang sekali orang yang meminta maaf kepada semua orang yang dia kenal setiap hari. Sehingga menjadikan Idul Fitri sebagai hari kemenangan dan saling meminta maaf bukanlah sebuah kesalahan.
Kali ini ada pesan di Instagram. Memang untuk Instagram tidak saya berikan notice seperti WA. Jadi memang harus dilihat dulu. Saya lihat itu adalah pesan dari adik angkatanku waktu SMA. Beliau menjabat menjadi ketua PMR di tahun setelahku. Dan yang jelas dan sangat jelas bahwa dia bukan jodohku. Titik.
“Assalamu’alaikum, Mas Amir.” Isi pesan darinya.
“Wa’alaikumussalam Tomi. Ada apa ini?”
“Mas ada undangan nih.” Deg, seketika saya berfikir. Tomi, laki-laki, adik angkatanku, sudah mau menikah? Cepat sekali dia dipertemukan jodoh. Cukup bangga.
“Alhamdulillah. Sama anak mana Tom?” tanyaku.
“Maksude? Ada undangan Halal bi Halal mas, PMR. Nanti jumat ini.” Ternyata dugaan saya salah. Saya mohon maaf kepada pembaca. Maaf pembaca.
“Owalah, yaya. terimakasih infonya Tom. InsyaAllah datang.”
Halal bi Halal PMR. Setiap tahun memang dilaksanakan, tapi sayangnya tahun sebelumnya saya tidak bisa mengikuti. Memang harus ada yang dilakukan di tempat rantauan sehingga memaksa untuk segera meninggalkan kampung halaman. Alhamdulillah tahun ini sepertinya saya bisa mengikuti. Kangen juga sama teman-teman seperjuangan. Berjuang melawan penindasan dan penderitaan (engga ding, kita seneng-seneng ko. Hehe). Sekarang sudah jarang sekali ketemu. Jangankan ketemu, saling menyapa di media sosial pun jarang. Hal ini dikarenakan kesibukan masing-masing yang tidak bisa ditinggalkan. Pernah dulu, saya dihubungi salah satu staff PMR untuk berkumpul lagi di suatu tempat,”Thir, ngumpul yuk. Masan bareng temen-temen masa lalu.”
“Masan bareng? Apa itu” jawabku, karena terkadang memang sulit dipahami. Mungkin ada bahasa baru yang dia pelajari di tempat rantaunya.
“Eh typo. Makan maksudnya. Hehe. Yuk makan bareng.” Ternyata typo.
“Maaf, masih di Jogja nih.” Itulah jawaban yang sering saya gunakan ketika teman-teman mengajak berkumpul lagi.
Semoga di tahun ini, kita bisa berkumpul lagi. Bukan hanya berkumpul, tapi menjalin komunikasi kembali untuk membentuk kenyamanan saling menyapa. Banyak yang ingin disampaikan, visi misi untuk Indonesia sebagai cikal bakal bangsa yang perlu diperbarui. Mengurangi generasi micin berbasis teknologi yang meracuni pemuda berpendidikan. Apa sih? Kaya mau nyalon jadi presiden. Hehe.
Oh ya. Ini juga menjadi kesempatan untuk bertemu dengan Ayu, yang akan segera menikah di syawal ini. Saya akan mengucapkan selamat, tanya-tanya, terus men-ciyee-ciyee-kan ceritanya. Alhamdulillah, ada kesempatan untuk bertemu.
— — —

Halal bi Halal dilaksanakan di Aula SMA saya, acara ini cukup resmi. Ada MC dan beberapa bagian lain seperti kepanitiaan pada biasanya. Saya berangkat ke sana diantar kakak saya (kakak asli) sekitar pukul 2 siang. Sebenarnya undangan pukul 1 siang, tetapi insting saya mengatakan,”kegiatan mundur, belum selesai persiapannya.” Sengaja berangkat pukul segitu agar panitia tidak merasa “engga enak hati”ketika saya sudah datang, tapi mereka belum siap. Alasan aja sih. Hehe.
Setelah sampai di sana, ternyata insting saya tidak benar, jadi saya yang merasa “engga enak hati”.Acara sudah dimulai. Alumni juga sudah berdatangan. Tapi jika dilihat-lihat, alumni angkatan saya hanya dua orang. Saya kemudian hubungi Aska yang katanya mau hadir tapi belum terlihat juga tangannya (jangan terlalu memperhatikan lawan jenis di bagian muka ya pembaca. Hehe).
“Aska, di mana? Aku dah di lokasi lo.” WA kirim, centang dua. Menunggu lama, lama sekali.
Nut nut..nut nut..
“Maaf Thir, masih nunggu temen kita nih, lama.”
Ya sudahlah. Nanti juga mereka datang. Misi utama hari ini “mengucapkan selamat dan maaf kepada Ayu”. Misi ini tidak boleh dilupakan. Kemungkinan Ayu membawa calon suami. Jadi saya menyiapkan beberapa pertanyaan untuk calonnya ini. Contohnya,”ko mau sih sama Ayu?”, “Kamu suka yang horror gitu ya?” kurang lebih seperti itu.
Sekitar satu jam saya menunggu kehadiran teman-teman seangkatan. Selagi itu, saya mengikuti acara formalitas, saling berkenalan dan lain-lain. Meskipun sebenarnya saya juga gampang lupa kalau hanya dikenalkan nama saja. Mungkin bisa dikasih kontak, biar bisa saling menyapa dalam media komunikasi. Tetapi ya sudahlah, nanti jika memang jodoh pasti bertemu *eh. Terkadang kita juga tidak membutuhkan banyak nomor dalam kontak kita, tetapi kita membutuhkan orang yang ada untuk kita di setiap waktu. *ehm.
“Thir, lama banget ya? Maaf, maaf.” Sapa Aska ketika sudah masuk dan bertemu denganku, “ ini Thir, bikin lama.” Lanjutnya sambil menghajar temannya.
“iya gapapa, santai aja. Langsung gabung aja As.”
“Iyalah. Masa cuman ketemu kamu terus pergi. Hehe.” Jawabnya dengan terkekeh.
Ayu juga hadir. Alhamdulillah. Saya akan menyampaikan sekarang saja, barangkali lupa. “Selesaikan misi dan bersantailah” ini merupakan semboyan kebanggaan saya.
“Eh Ayu.” Panggilku kepada Ayu.
“Iya Thir, ada apa?” Ayu langsung menjawab dengan lugas.
“Jadi gini, aku tuh nanti ga bisa….” Belum selesai bicara berkumandanglah adzan Ashar di Masjid sekolah,”dah adzan Yu, shalat, shalat.” Saya memutuskan untuk melanjutkan percakapan setelah shalat ashar, sekalian makan-makan.
— — —
Shalat sudah, makan sudah. Akhirnya di sesi santai inilah menjadi momen untuk mengucapkan selamat dan maaf. Ternyata misi ini malah tidak bisa dilakukan di awal. Malah harus dibagian akhir. Saya mengumpulkan semangat dan keberanian untuk mengatakan ini. Apa lagi Ayu tidak bersama calonnya, jadi daftar pertanyaan dalam pikiranku menjadi sia-sia. tidak apa-apa, yang penting Ayu kan datang.
Badan mulai berkeringat, pikiran tiba-tiba buyar. Tapi memang hari ini panas. Sepertinya wajar. Padahal hanya mengucapkan selamat dan maaf karena tidak bisa hadir, biasa aja. Maaf, terkadang saya lebay. Hehe.
“Ayu, gimana kabar?”
“Baik. Kabarmu gimana? Kuliah lancar?”
“Lancar Yu,” saya mulai memberanikan diri untuk membahas pernikahannya,”Yu, maaf ya, tidak bisa hadir nanti.”
“Hadir apa?”
“Selamat Yu, ternyata dibanding kita semua, kamu malah yang duluan.” Tanyaku di depan teman-teman seangkatan. Teman-teman hanya tertawa ringan mendengar ucapanku.
“Hah, bukannya kamu yang datang duluan tadi. Kan aku sama Aska telat.”
“Duh, bukan itu. Tanggal 8 itu lo.” Ayu memang suka bercanda dari dulu. Jadi saya yakin disaat mau pernikahannya pun dia juga pasti masih suka bercanda.”Maaf ya, belum bisa datang,” lanjutku.
“Apa sih Thir?” Ayu seperti tidak tau, acting-nya pintar juga. Dan yang saya bingungkan, teman-teman yang lain juga ikut diam. Sepertinya mereka bersekongkol. Saya jangan sampai kalah. Tetap ke misi awal.
“Ohh,” Aska setengah tertawa, mungkin Aska lelah untuk terus berpura-pura tidak tau. “maksudmu nikahannya Ayu?”
“Iyalah. Masa nikahanmu.” Jawabku dengan mentertawakan pertanyaannya.
“Itu tuh Ayu Astrianah. Hahaha.” Gelak tawa Aska mulai diikuti oleh teman-teman lainnya.
Saya masih berfikir,”lalu masalahnya apa? Ayu kan ya? Kan memang saya mengucapkan untuk Ayu. Nih Aska ke-PD-an. Tapi ko temen-temen juga ikutan ketawa? apa mereka juga merasa ke-PD-an? Padahal saya juga tau mereka masih jomblo fi Sabilillah. Apa yang terjadi di sini?”
Selang beberapa menit mereka tertawa dan saya masih berfikir apa yang terjadi. Sepertinya ada kesalahan di sini. Ayu juga ikut tertawa. Apa ini hanya setting-an mereka? Terlalu sempurna mereka memainkan peran.
“Eh iya. Saya lupa. Kamu kan Ayu Andirah yah?” saya mulai ingat dilanjut dengan tertawa terbahak-bahak,”sorry..sorry.. lupa beneran. Tak kira kamu lo yang mau nikahan. Pantesan ga bawa calon.” Lanjutku sambil tertawa.
“Gimana sih Thir, lupa sama staff sendiri. Jahat.” Ayu menampakkan rasa sebalnya.
“Maaf Yu, kamu terlalu mudah dilupakan.” Semua tertawa dengan kesalahan yang saya lakukan. Melupakan nama staff ternyata cukup berbahaya yah.
Ingat. Yang menikah itu Ayu Astrianah, beliau bukan staff saya di PMR. Beliau teman satu jurusan di waktu SMA. Dan staff saya bernama Ayu Andirah, staff PMR 2012/2013.
Keluarga bukan hanya sedarah. Namun jika kita saling menyayangi dalam kebaikan maka kita adalah keluarga. Keluarga dalam ikatan kasih sayang.

Penulis :ESPEJEE
Tegal, 3-4 Juli 2017

About KMM FT UNY

Lembaga Dakwah Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta , Sekretariat : Gedung PKM FT UNY Lt. 3 Sayap Barat, Kampus UNY Karang Malang, Yogyakarta

Fatal error: Uncaught Exception: 190: Error validating application. Application has been deleted. (190) thrown in /home/kmmuny/public_html/wp-content/plugins/seo-facebook-comments/facebook/base_facebook.php on line 1273