Home / Akhlak / Renungan KLASIK bagi aktivis DAKWAH ^_^
komunikasi-01

Renungan KLASIK bagi aktivis DAKWAH ^_^

HUBUNGAN IKHWAN-AKHWAT, renungan klasik bagi aktifis dakwah

 

Komunikasi merupakan jalan pemerkuat ukhuwah, mempererat persaudaraan, dan juga merupakan kunci keberhasilan dakwah. Dengan komunikasi, kinerja dakwah jama’i bisa menjadi solid. Namun dari komunikasi pula dapat terjadi salah paham.

Adakalanya kita terkadang terlena, karena komunikasi yang intens untuk mengejar agenda-agenda dakwah sampai lupa batasan ikhwan dan akhwat dalam hal berkomunikasi. Kita, terutama ikhwan-akhwat harus tetap waspada agar nikmat ukhuwah itu tidak menjelma menjadi laknat yang justru akan mencelakakan dan memerangkap kita ke dalam lembah fitnah yang mengancam setiap aktivitas da’wah.

Semakin besar dan meluasnya kerja da’wah akhir-akhir ini, menuntut berbagai strategi baru di kalangan aktivis da’wah, yaitu ikhwan-akhwat juga sulit untuk dielakkan. Karena memang ruang lingkup kerja yang makin luas dan besar menuntut hal itu.

Di kalangan ikhwan-akhwat yang bukan mahram dan belum menikah, tuntutan untuk “saling-salingan” pun muncul mengiringi perkembangan situasi itu. Saling menasehati, saling tolong-menolong , saling berpesan, saling telepon, saling misscalled, saling sms, dan saling-saling lainnya. Hal ini tentu tidak terlepas dari alasan bahwa kita bersaudara dan ini berkaitan dan demi kerja da’wah.

Tentu alasan ini bisa dibenarkan, karena memang seorang saudara memiliki hak ukhuwah atas saudaranya. Namun, kita juga mesti WASPADA agar saling-salingan itu tidak menyeret para ikhwan dan akhwat ke sebuah lembah yang jauh dari kemuliaan dakwah di mata Allah SWT. Karena jika kita mau jujur, dalam interaksi keduanya, sangat tipis sebenarnya jarak yang membedakan mana yang memang murni da’wah dan menunaikan hak ukhuwah, dengan mana yang interaksi berbumbu niat-niat lain. Hanya diri kita sendiri dan Allah sajalah yang tahu maksud kita sesungguhnya (”Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati” Al-Mukmin : 19). Oleh sebab itu kita harus banyak bertanya dan jujur pada hati nurani sendiri. SMS atau missed call misalnya, bukankah SMS atau missed call rindu bisa saja berjubah SMS atau Missed Call amanah da’wah.

Sekiranya fenomena itu memang ada atau memang sudah mulai mengemuka, maka suatu hal yang mesti kita sadari adalah, bahwa kita hanya terikat karena dan dalam da’wah. Dan kita menyadari bahwa ada aturan ikatan kekerabatan (mahram) diantara kita. Oleh sebab itu kita perlu “pemurnian” agar interaksi ikhwan dan akhwat itu betul-betul interaksi da’wah yang tak secuil apapun disekutui niat lain didalamnya. Kitalah yang harus cerdas membedakan, mana interaksi da’wah yang memang mesti ditunaikan dan mana interaksi yang menyimpang yang mesti tak kita lakukan.

Tulisan ini tidak bermaksud menggurui dan bukan pula bertujuan untuk mengajak kita memutus interaksi antara keduanya. Saya hanya menuntut PROPORSIONALITAS menghadapi fenomena yang berpeluang menjadi fitnah ini dan saya pun masih belajar dalam hal ini. Kita mesti menempatkan segalanya sesuai porsi mereka masing-masing. Kita tidak bisa menafikkan bahwa kita juga sering lupa. Dan ingatlah, bahwa fitnah itu juga bersemi diladang-ladang kebaikkan.

Ingatlah Bahwa Allah Bersama Anda Dimana pun Anda Berada. Dia Mengawasi Anda dan Apa Saja Yang terlintas dipikiran Anda Pasti di KetahuiNya(Hasan Al Banna)

 

Bagaimana agar komunikasi efektif tapi tetap terjaga???

 

Contoh dari note akh Ridwansyah (Ketua GAMAIS ITB 2008-2009)

Proses komunikasi yang efisien. Komunikasi yang dilakukan antara ikhwan dan akhwat perlu diefisienkan sedemikan rupa, agar tidak terjadi fitnah yang mungkin bisa terbentuk. Saya akan mengambil contoh sms seorang ikhwan ke akhwat, dalam dua versi dengan topik yang sama, yakni mencocokan waktu untuk rapat.

Versi 1

Ikhwan : assalamu’alaikum ukhti, bagaimana kabarnya ? hasil UAS sudah ada ?

Akhwat : wa’alaikum salam akhie, alhamdulillah baik, berkat do’a akhie juga, hehehe, UAS belum nih, uhh, deg deg an nunggu nilainya, tetep mohon doanya yah !!

Ikhwan : iya insya Allah didoakan, oh ya ukhti, kira kira kapan yah bisa rapat untuk bahas tentang acara ?

Akhwat : hmhmhm… kapan yah ? akhie bisanya kapan, kalo aku mungkin besok siang dan sore bisa

Ikhwan : okay, besok sore aja dech, ba’da ashar di koridor timur masjid, jarkomin akhwat yang lain yah

Akhwat : siap komandan, semoga Allah selalu melindungi antum

Ikhwan : sip sip, makasih yah ukhti, GANBATTE !! wassalamu’alaikum

Akhwat : wa’alaikum salam

Versi 2

Ikhwan : assalamualaikum, ukh, besok sore bisa rapat acara ditempat biasa ? untuk bahas acara

Akhwat : afwan, kebetulan ada kuis, gimana kalo besok siang aja?

Ikhwan : insya Allah boleh, kita rapat besok siang di koridor timur masjid, tolong jarkom akhwat, syukron, wassalamu’alaikum

Dari dua contoh pesan singkat ini kita bisa melihat bagaimana pola komunikasi yang efektif dan tetap menjaga batasan syar’i. Pada versi 1 kita bisa melihat sebuah percapakan singkat via sms antara ikhwan dan akhwat yang bisa dikatakan sedikit “lebai” ( baca “ berlebihan ), sedangkan pada versi 2 adalah percakapan antara ikhwan dan akhwat yang to the point, tanpa basa basi. Sebenarnya bagaimana kita membuat batasan tergantung bagaimana kita membiasakannya di lembaga dakwah kita saja. Perlu adanya leader will untuk membangun budaya komunikasi yang efisien dan “secukupnya”.Dalam hal percakapan langsung, seorang ikhwan dan akhwat sangat diharapkan untuk menjauhi percapakan berdua saja, walau itu di tempat umum. Saya menyarankan agar salah satu ikhwan atau akhwat meminta muhrimnya (sesama jenis kelamin) untuk menemaninya. Dengan itu diharapkan pembicaraan menjadi terjaga dan meminimalkan kesempatan untuk khilaf. Dengan melakukan pembicaraan yang secukupnya ini sebetulnya dapat lebih membuat pekerjaan menjadi lebih cepat dan efektif. Karena setiap pembicaraan yang dilakukan tidak ada yang sia-sia, semua membahas tentang agenda dakwah yang dilakukan. Selain itu, perlu kiranya kita mengurangi waktu ikhwan dengan akhwat untuk bekerja bersama pada waktu dan tempat yang sama. Sebutlah untuk pekerjaan mengepak sembako untuk baksos, saya merekomendasikan agar kegiatan dilakukan terpisah. Jangan ikhwan dan akhwat sama sama melakukan sebuah aktifitas, contohnya lagi ikhwan dan akhwat bersama sama menimbang gula, ikhwan memasuki gula ke plastik dan akhwat menimbang dan mengikat plastik.

 

Saya merekomendasikan agar hal seperti ini tidak terjadi, karena proses ini memungkinkan adanya kesempatan untuk khilaf. Kita tidak akan pernah mengetahui isi dari pikiran dan hati seseorang. Oleh karena itu diperlukan regulasi yang tepat untuk menjaga kader dari hal hal yang bisa merusak keberkahan dakwah. Untuk kasus kerja bersama baksos, bisa saja menjadi ikhwan mengerjakan di bagian pengepakkan beras dan gula, akhwat mengerjakan pengepakkan susu dan minyak.

Mungkin dapat diambil hikmah dari contoh di atas.

 

sumber:

myquran.org

http://ukimedia.wordpress.com

Note Ridwansyah Yusuf Achmad

SOP Pola Interaksi ADK UNPAD

About Fitri Muslimah

Fitri Muslimah

Fatal error: Uncaught Exception: 190: Error validating application. Application has been deleted. (190) thrown in /home/kmmuny/public_html/wp-content/plugins/seo-facebook-comments/facebook/base_facebook.php on line 1273