Home / Akhlak / Penyakit Hati: Mengagumi diri sendiri (`ujub) -part 2
sombong

Penyakit Hati: Mengagumi diri sendiri (`ujub) -part 2

Akibat Buruk dari Ujub

  • ‘Ujub adalah sifat perusak yang berbahaya di dalam diri yang merusak keyakinan dan perbuatan manusia biasa dan juga yang saleh. Menurut tradisi-tradisi yang diriwayatkan oleh Ahlul Bait (as), sifat ujub lebih buruk daripada perbuatan dosa. Begitu buruknya sehingga Tuhan lebih baik membuat seorang beriman melakukan dosa supaya terhidar dari sifat ujub. Lagi pula, ujub adalah bahaya terbesar bagi jiwa seseorang. Setelah kematian dan berada di alam barzah, hukuman untuk mereka yang memiliki sifat ini adalah mereka akan mengalami perasaan kesepian yang sangat mengerikan. .
  • ‘Ujub mengakibatkan sejumlah dosa besar dan sifat-sifat buruk lainnya. Ketika sifat ujub itu mengakar ke dalam hati manusia mengakibatkan timbulnya kemurtadan dan syirik. Lagipula, seseorang yang menyimpan ujub di dalam hatinya tidak pernah peduli untuk memperbaiki diri. Bahkan ia menganggap dirinya sebagai seorang alim dan baik. Ia meremehkan dosanya dan tidak pernah merasa perlu memohon ampun karenanya, dan akhirnya ia akan menjadi hancur selamanya. Tirai gelap ujub menyelubungi dan merusak kecerdasannya, membuatnya buta akan kekurangannya sendiri, dan menghalanginya untuk mencapai kesempurnaan dalam bidang apa pun.
  • Seseorang bersifat ujub cenderung bersikap riya (suka pamer) dan nifaq (munafik). Ujub juga mempengaruhi kebiasaannya untuk berbangga diri. Beberapa sifat buruk yang lainnya yang ada pada orang bersifat ujub adalah memandang rendah orang lain dan meremehkan mereka. Ujub lama kelamaan akan menjauhkannya dari sifat kemanusiaan dan membuatnya menjadi bengis, tidak berperasaan dan perusak.
  • Imam Ali (as) berkata: “Tidak ada yang dapat dibandingkan dengan perasaan kesepian yang mengerikan yang disebabkan oleh sifat ujub.” [Nahjul Balagha, kata-kata mutiara # 113]
  • Imam Ali (as) berkata: “Orang yang memiliki sifat ujub tidak cerdas..” [Al- Amidi, Ghurar ul-Hikam wa Durar ul-Kalim, hadis # 1008]
  • Imam Ali (as) berkata: “’Ujub adalah pancaran kebodohan.” [Ibid., # 938]

 

Saran-saran untuk sembuh dari ‘ujub

  • Seseorang dapat mengetahui ada ujub di dalam dirinya dengan bersikap waspada, cermat mengkritik diri sendiri , dan seksama menganalisis niat dan tindakannya. Ia harus dengan tulus memohon kepada Tuhan untuk menganugerhinya wawasan akan kesalahannya dan kelemahan sendiri. Ia harus ingat ketika Tuhan menolong seseorang, pertama-tama Ia akan memberinya kesadaran akan kekurangannya dan kesalahannya.
  • Ingatlah bahwa hidup, pengetahuan, kekuatan, dan pencapaian yang lainnya adalah bayangan dari sifat-sifat Tuhan. Setiap perbuatan baik, penghambaan, bakat, dan kesempatan terjadi karena anugerah dan restuNya. Tanpa ijinNya, tidak ada mahluk apa pun yang mampu melakukan perbuatan baik. Lihatlah pada perbuatan baik dan ibadahmu selama ini: “Apakah kau melakukannya dengan tulus dan hanya karena Tuhan semata? Apakah kau bisa menuntut bahwa Tuhan harus memberimu ganjaran sempurna untuk perbutan baikmu? Atau sebaiknya jika kau mengerti bahwa hanya karena pertolongan Tuhan lah kau mendapatkan kesempatan berbuat baik dan Ia menutupi banyak kesalahan dan niat burukmu, dan bahwa kau berharap Tuhan akan menggolongkan perbuatanmu itu ke dalam perbuatan mulia.
  • Sadari bahwa tidak ada mahluk di permukaan bumi ini sanggup benar-benar memenuhi tuntutan penyembahan dan penghambaan kepada Tuhan. Doa-doa para Rasul dan para awliya mengandung kesaksian akan pengakuan kegagalan mereka dalam hal ini. Mereka sadar, walau mereka menggunakan waktu seumur hidup mereka, mereka tetap tidak mampu untuk cukup berterimakasih atas kasih sayang Tuhan, apalagi membalas kebaikan dengan pantas atas kemurahan Tuhan dan pemberianNya. Maka semua orang harus tetap dengan bersikap rendah hati mengakui kesalahan dan memohon ampunanNya.
  • Penyakit ujub merupakan hasil dari mencintai diri sendiri sehingga orang tersebut menilai secara berlebihan segala perbuatannya yang sesungguhnya perbuatan sederhana dan meremehkan perbuatan baik yang dilakukan orang lain. Pikirkan tentang perbuatanmu sendiri.
  • Bagaimana perasaanmu ketika Tuhan menganugerahi kesempatan untuk melakukan kebaikan kecil? Apakah itu membuatmu merasa rendah hati dan bersyukur di hadapan Tuhan? Bagaimana pendapatmu tentang kebaikan yang sama yang dilakukan oleh orang lain? Apakah sulit bagi hatimu untuk mengakuinya sebagai perbuatan baik? Dan bagaimana perasaanmu saat kau melakukan dosa? Apakah itu membuatmu malu di hadapan Allah? Atau kau meremehkannya dan mencari-cari alasan untuk itu? Bagaimana kau memandang perbuatan yang sama yang dilakukan oleh orang lain? Apakah kau berdoa kepada Tuhan untuk memaafkan mereka? Apakah kau membantu mereka untuk meninggalkan perbuatan berdosa itu atau kau hanya merasa membenci mereka?
  • Ketika kau melakukan salat merenungkan makna dari Alhamdulillah ( segala puji hanya bagi Allah) dan cobalah untuk mengajari hatimu bahwa segala kemampuan dan kebaikan yang kau miliki dan segala kebaikan yang kau lakukan sejauh ini tidak ada nilainya, dan hanya Tuhan lah yang patut mendapatkan pujian setulusnya bagi segala kebaikan dan bakat yang kau lakukan.

Kesimpulan:
 Imam al-Baqir (as) berkata: “Hindari sifat ujub dengan ma’rifah (pengenalan) diri.” [Mizan al-Hikmah, hadis # 11859]

Semoga Artikel di atas bermanfaat untuk kita semua. 🙂

Fastabiqul Khoirot. 🙂 🙂

About Fitri Muslimah

Fitri Muslimah

Fatal error: Uncaught Exception: 190: Error validating application. Application has been deleted. (190) thrown in /home/kmmuny/public_html/wp-content/plugins/seo-facebook-comments/facebook/base_facebook.php on line 1273