Home / Akhlak / Penyakit Hati: Mengagumi diri sendiri (`ujub) -part 1
ujub-detected

Penyakit Hati: Mengagumi diri sendiri (`ujub) -part 1

Katakan (Muhammad): “Apakah akan Kami beritahu padamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya. Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya”. (Qur’an 18: 103-104)

Imam Ali (as) berkata: “Ia yang hatinya ditumbuhi rasa ujub, akan dihancurkan. [Al-Saduq, al-‘Amali, hal. 447]

Imam Musa al-Kazim (as) berkata: “Ada beberapa tingkatan ujub. Salah satunya adalah ketika perbuatan buruk seseorang di anggap baik oleh dirinya sendiri; ia menilai perbuatan-perbuatan tersebut sebagai perbuatan baik dan mencintai dirinya sendiri, dengan membayangkan dirinya sendiri sedang melakukan perbuatan mulia. Tingkatan ujub lainnya adalah ketika seseorang percaya bahwa dengan yakin kepada Tuhan bearti ia telah berbuat baik kepada Tuhan; padahal sesungguhnya Tuhan yang Mahakuasa lah yang menganugerahinya kebaikan (dengan memberkati iman pada dirinya). [Al-Kulayni, al-Kafi, vol. 2, hal. 313, hadis # 3]

Seperti apakah perasaan ujub itu?

  • `Ujub adalah perasaan membesar-besarkan kebaikan dan perbuatan baik diri sendiri, penilaian berlebihan dan merasa puas dengan perbuatannya itu, ditambah dengan perasaan bahwa dirinya lebih hebat dari yang lainnya. Ia yang memiliki perasaan ujub menganggap dirinya sendiri tidak memiliki kekurangan dan kesalahan sama sekali. Sebaliknya, jika seseorang merasa gembira dan bahagia saat melakukan kebaikan diikuti dengan perasaan rendah hati dan sederhana di hadapan Tuhan dan bersyukur atas segala karunia Tuhan, itu bukan ujub, namun tindakan yang terpuji. .
  • Imam Ali (as) berkata: “Ia yang membayangkan drinya hebat di hadapan Tuhan sebenarnya tidak ada artinya.” [Al-Amidi, Ghurar ul-Hikam wa Durar ul-Kalim, hadis #8609]
  • Ketika menggambarkan ciri-ciri orang yang bijak Rasulullah (saw) bersabda: “Ia menilai perbuatan baik orang lain yang sedikit sebagai perbuatan baik yang banyak sekali. Namun menganggap perbuatan baiknya yang banyak itu sebagai perbuatan baik yang sedikit saja. [Al-Noori, Mustadrak al-Wasail, jilid.1, hal. 132, hadis # 184]

Berbagai Tingkatan dan Jenis Ujub

  • Tingkat pertama dari sifat ujub berkenaan dengan keimanan dan percaya pada ajaran-ajaran yang benar. Di sini, ia percaya bahwa ia telah melakukan kebaikan untuk Tuhan dengan meyakiniNya, atau dengan menjalankan kewajiban yang diperintahkanNya dan RasulNya, atau dengan menyebarkan pesan-pesanNya, ia merasa telah menyumbangkan kebaikan bagi agamaNya. Ia tidak memperlihatkan perasaannya, namun menyimpannya di dalam hatinya.
  • Tingkat kedua dari ujub terlihat dalam sifat baik dan kualitas pribadi. Ia merasa menjadi kesayangan Tuhan dan meggolongkan dirinya sendiri pada mereka yang memang dekat denganNya. Jika ia mendengar nama awliya-Nya, ia membayangkan diriya sendiri sebagai salah satu dari mereka, walau ia sesungguhnya mempermalukan dirinya sendiri. Jika bencana datang menimpanya, ia akan menganggap bahwa hal itu terjadi karena kedekatannya pada Tuhan.
  • Tingkat ketiga dari ujub berhubungan dengan perbuatan-perbuatan luhur. . Di sini, ia menganggap dirinya sendiri layak mendapatkan pahala dari Tuhan sebagai imbalan dari perbuatan dan perilaku baiknya. Ia menganggap dirinya sebagai orang beriman sejati sehingga sudah seharusnya Tuhan menyayanginya dan menganugerahinya tempat yang baik di Akhirat. Tetapi di dalam hatinya ia mempertanyakan keadilan tindakan Tuhan yang membuat orang-orang taat dan baik justru menderita, sementara kenikmatan yang diberikan Tuhan pada mereka yang munafik di dunia ini. Ia berpura-pura bahagia dengan apa yang dikehendaki Allah dan keadilan Allah baginya. Namun di dalam hatinya ia membenci Tuhan.
  • Jenis lain dari sifat ujub terlihat ketika seseorang menganggap dirinya lebih hebat dan alim dibandingkan dengan orang lain dan menganggap dirinya sebagai orang yang lebih baik. Ia menilai dirinya lebih sempurna daripada yang lainnya dalam pelaksanaan wajibat (ibadah wajib) dan meninggalkan muharramat (hal-hal yang dilarang). Ia menganggap orang lain tidak layak mendapatkan Rahmat dan kasih Tuhan, dan hanya dirinya serta orang-orang semacam dirinya lah yang layak mendapatkannya. Ia dapat dengan mudah melihat kesalahan orang lain namun sulit melihat kesalahan dirinya sendiri. Ia menganggap orang lain tidak sempurna dan mahluk yang tidak penting dan merendahakn mereka di dalam hatinya, serta melecehkan mereka. Akhirnya, ia akan mencapai titik saat ia menyangkal segala kebaikan yang dilihatnya pada orang lain.
  • Namun jenis ujub yang ini berhubungan dengan kepercayaan menyimpang dan perbuatan jahat dari orang-orang kafir yang menganggap diri mereka lebih tinggi dan bangga akan diri mereka. Mereka menganggap diri mereka sendiri sebagai orangorang yang berfikiran bebas dan terbuka, bebas dari segala tekanan dan ikatan. Mereka menghubungkan keyakinan dan kepercayaan terhadap Tuhan dengan takhayul; menganggap percaya bahwa ajaran agama sebagai kesempitan cara berfikir, sedangkan sifat yang baik dianggap mereka sebagai tanda kelemahan kepribadian. Mereka meremehkan perbuatan baik dan menganggap perbuatan jahat sebagai capaian perbuatan yang baik. Orang-orang lalai dan alpa ini menganggap diri mereka patut dicontoh dan waspada sehingga mereka tidak mau mendengarkan segala nasihat dan peringatan yang sering kali bertentangan dengan mereka. Mereka yang memiliki sifat ujub jenis ini adalah orang-orang yang paling celaka.
  • Imam al-Sadiq (as) berkata, “Iblis berkata, `Jika aku dapat menundukkan anak Adam dalam tiga hal, aku tidak peduli apa pun yang akan dilakukannya (sejak saat itu), karena segala perbuatan baiknya tidak akan diterima: : (1) Ketika ia menilai secara berlebihan perbutan baiknya. (2) Ketika ia lupa akan dosanya, dan (3) ketika sifat ujub mengusainya.” [Al-Saduq al-Khisal, jilid. 1, hal. 112, hadis # 86]

–bersambung– 🙂 🙂 🙂

About Fitri Muslimah

Fitri Muslimah

Fatal error: Uncaught Exception: 190: Error validating application. Application has been deleted. (190) thrown in /home/kmmuny/public_html/wp-content/plugins/seo-facebook-comments/facebook/base_facebook.php on line 1273