Home / Artikel / ANTUM, ANA KELUARKAN(?)

ANTUM, ANA KELUARKAN(?)

ANTUM, ANA KELUARKAN(?)

“Jika tidak ada yang ingin antum tulis, keluarlah. Keluar dari ruangan!” teriakku membentak, membenturkan suara ke dinding-dinding ruangan. Semuanya terdiam, termasuk Sam.
Sam adalah seorang anak yang sangat menyebalkan, setiap hari mengeluh dan setiap hari juga, aku yang dia keluhkan. “sebagai kadep, mas itu jangan nyalahin staff lah,” “Mas itu ga tau cara ndeketin staff sih, gitu jadinya, pada ilang semua kan? Sekarang siapa yang mau ngerjain tugasnya dia? Ana? Ogah.” Dan yang paling menyebalkan adalah hanya aku yang dia keluhkan.
Dialah pengkritik, melihat kekuranganku sebagai sebab segala masalah yang ada di dalam departemen kami. Suatu kali aku pun pernah mendiskusikan anak ini dengan Koakh, Ukh Nila, akhwat yang menjadi pertimbangan dalam keputusan yang aku terapkan pada staff.
“Ukh, akh Sam gimana ya? Ga bisa diatur. Dari awal kepengurusan sampai sekarang, masih saja suka mengoreksi teman-temannya. Hasan kurang inilah, kurang itu lah, Dina kurang ini, ga bisa itu. Kayak dia yang paling ahli aja.” Tanyaku di WA secara personal dengan Ukh Nila.
“Akh Sam sudah bagus akh, beliau aktif ko dari awal kepengurusan. ya masalah dia seperti itu, menjadi tugas antum untuk menasehati. Insya Allah semakin lama, beliau juga paham harus bagaimana bersikap.”
Jawaban ini menghentikan rencana cemerlangku beberapa hari sebelumnya. Mengeluarkan Sam dari departemen. Pastilah rencana ini akan ditolak mentah-mentah. Sangat jelas sekali. Sam malah dipuji. Sehingga layaknya daun yang jatuh, aku siap diterpa kemanapun. Aku hanya menjawab oke saja kala itu.
Sudah 3 bulan kami menjadi pengurus dengan keluarga baru. Tahun lalu menjadi staff dan sekarang menjadi kepala Departemen. Selama 3 bulan ini pula, aku benar merasakan sulitnya menjadi pemimpin. Bahkan mempertahankan staff pun sangat kesulitan. Bayangkan saja, dari 10 staff yang menghilang ada 3 orang, yang paling aktif hanya 4 orang, itupun termasuk Sam. Dan yang lain? Yang lain hanya simpang siur, ya datang ya tidak. Harus diaktivasi berkali-kali baru membalas,”oke mas, ana datang.”
“Sabar akh. Didoakan saja, biar mereka aktif lagi.” Itu yang menjadi jawaban Mas’ul ketika ku sampaikan masalah ini. Kurang membantu. Aku sudah sabar dari awal memegang amanah sampai sekarang menghadapi nakalnya staff. Seandainya saja, aku ditawarkan kembali untuk memegang amanah ini, aku langsung menjawab,”engga, ana ga mau mas.” Tapi aku akan bertahan. Bukankah ini caraku menjadi pemimpin yang baik? Meskipun tidak ada keinginan sekalipun untuk menjadi Kepala desa ataupun Presiden, aku tetap bercita-cita memiliki keluarga yang dapat ku pimpin untuk mencapai syurga. Jika departemen ini aku asumsikan sebagai keluarga maka aku adalah ayah yang gagal. Membiarkan 3 anak yang hilang entah ke mana tanpa pengawasan.
2 menit berlalu terasa lama sekali. Ruangan masih lengang. Ruang yang berisi 4 ikhwan, 3 akhwat ini menjadi seperti kosong. Tidak ada yang berani berkata. Bahkan Dina yang cerewet juga ikut terdiam. Apa yang terjadi? Aku hanya kesal dengan Sam yang enggan menulis nama, NIM, Jurusan dan tanda tangan. Aku berkali-kali memintanya. Basri tidak perlu diminta saja sudah langsung mengisi. Itu hanya lembar presensi yang lengkap untuk pendataan pengurus. Sungguh aneh sekali anak ini.
Mulai terdengar suara dari balik hijab. Hijab hitam sebagai pemisah syuro antara ikhwan akhwat. Ruangan terlihat sedikit kotor, bekas acara kemarin. Tidak apalah kita syuro dalam keadaan seperti ini. Papan tulis yang menjadi pusat perhatian kami juga sudah terisi macam-macam perencanaan ke depan. Bagi beberapa orang di luar sana, mungkin bingung melihat cara kami melakukan syuro untuk mengambil keputusan atau hanya menanyakan kabar masing-masing. Ikhwan akhwat terpisah, aku sebagai pemimpin syuro pun ada di balik hijab. Tidak ada saling tatap. Aku saja tidak tahu apa yang sebenarnya akhwat lakukan ketika syuro. Apa mereka mendengarkan atau tidak, aku serahkan pada koakh.”sudah, gapapa. Aman.” Suara lirih dari Ukh Nila, mungkin beliau sedang menghibur akhwat yang lain agar tidak ketakutan.
Aku mulai salah tingkah, bingung apa yang harus dilakukan. Bentakku yang sebenarnya hanya tertuju pada Sam, menjalar ke seluruh staff lainnya. Aku sadar, ini kesalahan.
“Ya udah akh. Mending ditutup aja syuro-nya. Nanti yang belum dibahas, bisa dipertemuan ke depan saja ya.” Kata Ukh Nila yang sepertinya tahu kalau aku kebingungan.”Akh Sam?”
Sam masih terdiam. Kenapa pula anak ini. Dia masih ada dalam ruangan dan dia terdiam?
“Akh Sam masih di situ?” Ukh Nila bertanya lagi. Sam masih saja terdiam. Aku mulai menoleh ke belakang. Ada apa dengan Sam?
“Masih mba.” Salah satu staff yang hadir pada syuro itu menjawab. Dika adalah salah satu staff yang aktif. Dia sedikit pendiam tetapi sangat militan ketika mendapatkan amanah.
“Sam, itu presensinya diisi ya. Biar cepet pulang.” Kata Ukh Nila. Dengan dibumbui sedikit tawaan.
“Udah ko mba, dari tadi.” Lagi-lagi Dika yang menjawab.
Aku tutup syuro ini segera. Bukan karena ada kegiatan lain. Tapi sepertinya usulan ukh Nila benar. Aku harus tutup syuro pada hari ini.
[[*]]

Setelah memarkirkan motor di belakang Masjid, aku langsung ke tempat wudhu ikhwan. Berwudhu. Menenangkan pikiran. Entah kenapa, pikiran menjadi kacau karena kejadian tadi. Aku duduk terdiam di Masjid Mujahidin. Aku berniat menenangkan diri dengan membaca Qur’an. Tapi Qur’an ini belum terbuka masih tertutup. Hanya aku pandangi saja. Atau mungkin lebih tepat, seperti melamun. Aku memikirkan banyak hal. Sebelum syuro memang cukup berat dengan beberapa tugas dari dosen. Biasa saja sebenarnya. Aku sudah terbiasa dengan banyaknya tugas, banyaknya amanah. Jadi marahku tadi bukan karena itu harusnya. Mungkin jika ditanya, aku bisa saja menjawab,”maaf ya tadi, ana lagi banyak nugas, capek e. jadi kebawa emosi.” Tapi dalam hatiku, jelas bukan itu penyebabnya.
Aku masih diam saja. Belum ku buka Qur’an di tangan. Masih terpikirkan, kenapa aku bisa semarah itu. Ah itu karena Sam. Nakal sekali dia menggodaku berkata tidak mau mengisi presensi itu. Mengatakan malas, tidak bisa, lupa dan sebagainya. Kembali aku salahkan Sam. Dialah penyebabnya. Maka sebenarnya tidak salah jika aku marah tadi. Semua berawal dari Sam.
Aku taruh kembali Qur’an itu. Aku merebahkan diri. Menatap atap masjid yang megah. Masjid ini sungguh indah, pencahayaannya aku sangat menyukainya. Apalagi ditambah riuhnya suara pengunjung masjid yang sedang mengaji atau hanya sekedar obrolan ringan. Aku bangun kembali, melihat pukul berapa ini? “oh masih jam lima.” Terlalu cepat sebenarnya aku menyelesaikan syuro. Baru pukul 5 sore. Artinya aku sudah membubarkan syuro 10-15 menit sebelumnya. Tapi ya sudahlah, dilanjutkan juga belum tentu efektif. Aku kembali merebahkan diri.
Sembari menunggu adzan maghrib, aku hanya tiduran saja. Melihat sekeliling, terkadang bermain HP, membuka chat di grup yang sering terlalu banyak. Ya, biarlah mereka yang suka bercakap-cakap di grup. Agar grupnya tidak sepi juga. Aku juga jarang ikut bergabung dalam pembahasan grup yang kadang tidak bermuatan, hanya pengakraban saja. Tapi bukan berarti tidak tahu menahu informasi penting yang disampaikan di grup. Aku tidak mau menyusahkan Mas’ul yang kemudian harus chat personal. Terkadang kadep-kadep nakal memang. Pernah suatu kali di-chat di grup Pengurus Harian terkait konfirmasi agenda. Kami hanya read saja. Tidak ada yang membalas sama sekali, sampai akhirnya muncul pesan dari mas’ul,”Woi, ra mung diwoco cah. Hohoho.”(Woi, tidak hanya dibaca nak.) padahal pada waktu itu kadep-kadep sedang berkumpul, tertawa menunjukan siapa yang duluan di-chat oleh mas’ul kita. Meskipun sebenarnya semua dapat pesan dari beliau. Teringat itu, aku menjadi cukup terhibur.
[[*]]

Shalat Maghrib sudah dilaksanakan.
Aku duduk di dekat tembok tanpa alas sajadah. Sengaja, agar dinginnya lantai terasa menenangkan. Aku mulai membuka Qur’an dan membacanya.
Setelah beberapa lembar, aku menoleh ke kanan mendengar suara tilawah dari orang yang ku kenal. Suaranya lirih sebenarnya. Tapi bagiku suaranya sangat mudah dikenali. Dika. Beliau sedang tilawah di tengah masjid, bersandar. Aku tersenyum melihatnya. Dia sangat membanggakan bagiku. Berkali-kali urusan program kerja terselesaikan berkat dia juga.
Aku tutup Qur’an dan melangkah kearahnya. Jelas saja beliau tidak melihat. Sepertinya fokus sekali dia membaca.
Melihatku yang duduk di sampingnya, dia berhenti membaca dan mengulurkan tangannya. Bersalaman.
“Assalamu’alaikum mas.” Dika membuka percakapan.
“Wa’alaikumussalam. Udah satu juz hari ini?” tanyaku dengan senyum simpul.
“belum e mas. Hehe.” Jawabnya dengan sedikit tertawa.
Suasana menjadi lebih hangat. Kami saling bertanya, perkuliahan, organisasinya di HIMA, cerita Mas’ul kami sering membuat broadcast ke seluruh pengurus, hingga akhirnya Dika menyinggung terkait syuro tadi.
“Mas, tadi marah-marah kenapa e mas? Lagi banyak masalah ya?”
“Eh tadi. Hehe.” Sengaja aku tambah sedikit tertawa, agar tidak terlihat serius,”bukan masalah sih. Tadi abis banyak nugas e akh.” Jawabku berbohong.
“Oalah. Ya sih emang kalo lagi banyak tugas. Kena dikit bisa jadi emosi ya mas. Hehe.”
“kena dikit gimana? Sam itu udah dari dulu nyebelinnya. Lelah Akh kalo dibiarin terus,” kataku di dalam hati. Namun aku hanya mengatakan,”Iya Akh. Bener.”
“Tadi Sam ketakutan e mas. Hehe”
“Takut?” aku kaget. Ternyata bentakanku tadi bisa membuat Sam ketakutan. Ah biarlah, biar dia sadar.
”takut kenapa?” aku kembali bertanya. Menyelidik.
“Mungkin karena sebelumnya mas ga pernah marahin dia.”
“Pernah ko dulu.” Jawabku simpel. Sebenarnya aku masih mengingat-ingat. Pernah atau tidak?
“Oh gitu. Mungkin dia juga lagi capek kali ya mas, jadi ketakutan gitu. Hehe.” Dika menunjukan tertawanya, meskipun sepertinya dia tau kalau itu sama sekali tidak lucu. Aku masih berfikir. Mengingat.
“Sam itu kayaknya cocok jadi penerusmu mas.” Dika melanjutkan percakapan dengan menyungging senyum.
“Hlo kenapa? Kamu aja lah.” Aku mencoba menggoda Dika. Barangkali dia bersedia tiba-tiba.
“Aku? Engga lah mas. Sam itu coba ngaktifin seluruh staff departemen kita e mas. Orang tadi Basri aja hadir karena disusul Sam di kos.” Deg. Aku mulai merasa bersalah. Sejak satu bulan kemarin, aku memang tidak benar-benar mengajak staff yang tidak aktif untuk ikut syuro. Percuma pikirku. Di WA berkali-kali hanya dibaca. Aku akhirnya hanya mengirim broadcast secara personal ke masing-masing staff. Itu saja. Dan saat ini aku mendengar sesuatu yang sebenarnya sangat berlawanan dengan hati. Sam kembali dipuji orang lain. Aku terdiam. Percakapan kami berhenti. Entahlah kenapa Dika tak kunjung bicara. Aku sesak dadanya dan memang tidak bisa berkata-kata.
Sampai akhirnya Dika kembali mengaji. Aku tersenyum. Hampir-hampir menangis. Dadaku masih sesak. Aku merasa, jika satu kata saja aku berbicara, maka menangislah aku.
Aku mengingat kembali perkataan Mas’ul ketika aku melemah dan mengeluh tentang Sam. Aku paham sekarang. Sabar. Sabar tidak berujung. Mereka yang tidak aktif hanya belum paham saja. Sungguh. Mereka yang aktif tapi bertindak seperti Sam, mereka sangat butuh pengarahan. Sabar. Semua akan baik-baik saja.
Dalam hati, aku berdoa,”Ya Allah, kuatkanlah kita di jalan-Mu. Bantulah aku untuk tetap sabar dan jadikanlah aku orang yang bersyukur. Ya Allah, terima kasih, Kau kirim orang-orang seperti Sam, seperti Dika, Ukh Nila, dan orang-orang yang baik di sekelilingku. Terima kasih Ya Allah.”
Sam memang menyebalkan bagiku. Dan seterusnya mungkin seperti itu, tapi dialah yang selalu membakar semangatku. Menjadikanku lebih banyak belajar. “Dan untukmu Dik, terima kasih, saat ini penerusku ada dua kandidat. Kau atau orang yang menyebalkan itu.”
“Sam, Antum, ana keluarkan? Tidak akan akhi.”

Karya: Espejee
PRASANGKA1

About KMM FT UNY

Lembaga Dakwah Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta , Sekretariat : Gedung PKM FT UNY Lt. 3 Sayap Barat, Kampus UNY Karang Malang, Yogyakarta

Fatal error: Uncaught Exception: 190: Error validating application. Application has been deleted. (190) thrown in /home/kmmuny/public_html/wp-content/plugins/seo-facebook-comments/facebook/base_facebook.php on line 1273